Akhir minggu kemarin kita disuguhi tanyangan sepakbola yang mutu dan kelas bagai bumi dan langit. Di Anteve, jam 19.00 Persik menjamu Persitara, sementara malamnya, jam 22.00 Real Madrid Vs Barcelona. Memang bukan pada tempatnya untuk membandingkan, tapi setidaknya saya hanya ingin memaparkan betapa parahnya persepakbolaan kita. Di laga lokal yang mengusung target sama-sama ingin lolos dari zona degradasi, permainan sangat keras dan menjurus kampungan. Aksi Saktiawan Sinaga yang mentekel dari belakang Mboma, atau juga sundulan kepalanya ke kepala pemain belakang Persitara asal Korsel, benar-benar menyiratkan betapa pemain lokal kita sama sekali tidak punya perasaan untuk memajukan sepakbola, apalagi memuaskan hasrat penonton untuk menyaksikan pertandingan bermutu. Sementara di sisi lain, duel El Clasicco benar-benar seperti sebuah orkestra yang saling sahut menyahut menyentak namun tetap penuh harmoni yang mampu menyihir penontonnya untuk terhanyut dalam irama permainan mereka.
Sungguh ironi, liga ISL yang dianggap dan digadang-gadang sebagai kasta tertinggi di kancah kompetisi sepakbola kita, masih belum bisa menampilkan apa yang kita semua pecinta sepakbola tanah air harapkan. Permainan keras dan kasar masih mendominasi. Bahkan bisa kita perhatikan, tidak ada 1 menit berlalu tanpa pelanggaran keras. Hal ini lebih diperburuk lagi oleh mutu wasit dan asisten wasit yang rendah, permisif dan terkadang lamban. Pemain seolah-olah kebal terhadap kartu merah, sehingga tenang saja jegal sana jegal sini, karena paling-paling hanya kena kartu kuning. Saya melihat, mungkin wasit pun mengalami dilema. Ingin tegas tapi takut tidak dipakai lagi. Lihat saja ketegasan yang ditunjukkan oleh Jimmy Napitupu lu (dulu), saya rasa hal ini yang membuat dia jarang tampil menjadi pengadil lapangan, karena para pemilik klub enggan menggunakan wasit yang tegas seperti dia. Maka sekarang pun Jimmy jadi ikut-ikutan lunak. Mungkin berpikir daripada nggak makan, mending ikutin aja permainan mereka.
Saya yakin, yang menyebabkan kemerosotan sepakbola kita adalah Wasit kita yang kurang tegas dan kurang trampil, sehingga permainan cenderung menjadi kasar dan negatif. Pemain asing pun seperti takut untuk mempertontonkan kepiawaian mereka dalam mengolah si kulit bundar. Akibatnya, permainan jadi kampungan dan berimbas pada permaian tim nasional yang juga tidak kurang kampungannya. Saya tahu, jadi wasit memang tidak mudah, tapi PSSI punya dana dan resources. Kenapa tidak kita sekolahkan saja wasit-wasit itu keluar negeri kalau perlu. Saya ragu kalau para pengurus PSSi menonton pertandingan-pertandingan ISL. Yang mereka khawatirkan cuma, bagaimana supaya mereka tidak dicopot dalam kepengurusan yang baru.
Untuk Komdis, tayangan televisi cukup untuk menjatuhkan sanksi seperti apa yang dilakukan oleh Saktiawan, maupun Mahyadi.
No comments:
Post a Comment