Tuesday, December 30, 2008

Akhir dari Sarana 'Interaktif' PSSI

Akhirnya, lembar komentar di www.pssi-football.com ditutup.. Jadi, habis deh sarana kita untuk saling ejek, saling maki, dan kirim saran ke PSSI. Cukup disesalkan, tapi ya rasanya memang harus seperti itu sepertinya. Mengingat kasarnya kata-kata yang dituliskan oleh rekan-rekan yang sakit hati. Dan banyak pula yang tidak jelas juntrungannya dan hanya memaki seperti orang barbar biadab yang tak mengerti sopan santun. Anehnya, PSSI tidak membuat atau menentukan seseorang sebagai moderator yang harusnya bisa mem-filter semua itu. Sehingga, harusnya sarana 'interaksi' itu bisa tetap dipelihara, namun di-filter pula dari kata-kata kasar tak berpendidikan dari para mania, yang saya yakin sebenarnya kalau bisa mereka akan mengeluarkan kata-kata yang lebih kasar lagi saking kecewanya mereka dengan PSSI, jajarannya, ketua umumnya, maupun Timnas-nya yang benar-benar tak bisa jadi kebanggaan hati.
Tiga kejuaraan terakhir, Piala Kemerdekaan, Piala Royale Challanger, Piala AFF 2008, semuanya berakhir mengecewakan, kalau tidak bisa dibilang memalukan. Piala Kemerdekaan, cukup bagus di awal, tapi finalnya sungguh memilukan, lantaran tim tamu Libya, memilih 'ngalah' daripada babak belur. Cukup masuk akal memang, walau agak kekanak-kanakan. Tapi saya yakin kalau pertandingan diteruskan, kita tidak bakalan menang.
Piala Royale Challanger, cukup aneh juga, dimana kita mati-matian harus memenangkan pertandingan melawan tim-tim lemah yang datang dengan pemain-pemain muda, untuk akhirnya kalah di final. Cukup menyebalkan, lantaran pemain kita seperti bermain tanpa pola dan sporadis seperti anak-anak kampung yang baru belajar main bola.
Piala AFF 2008, benar-benar memalukan, ditopang pemain-pemain bangkotan, kita tak mampu tampil baik melawan anak-anak muda negeri tetangga. Benar-benar permainan yang melelahkan. Bandingkan dengan Vietnam dan Thailand yang bermain dengan irama yang kompak didukung teknik dan kerjasama yang cukup tinggi. Akhirnya, bisa ditebak, dengan berbekal tekad dan semangat saja, tidak cukup untuk melaju ke final. Bahkan dari segi permainan, kita sungguh-sungguh dibawah Thailand, Vietnam, dan Singapura.
Dari sini kita dapat melihat, bahwa sesungguhnya keterampilan pemain kita tidak kalah dengan negara lain, tapi sayang, mental yang tidak tegar. Kita selalu terintimidasi, akhirnya, permainan jadi kasar, kaku, dan otomatis fisik lebih cepat terkuras karena kita panik. Satu hal yang paling menonjol adalah kekalahan postur rata-rata pemain kita yang banyak kurang memadai dibandingkan pemain dari kesebelasan lain. Karena ini permainan fisik, jadi tentu saja hal ini akan sangat berpengaruh.
Entah apa yang ada di benak para petinggi PSSI, saya yakin merekapun berpikir siang malam untuk memajukan sepakbola Indonesia, tapi saya rasa saat ini sudah saatnya bagi mereka untuk mencoba pandangan dari orang lain. Get second opinion, get professional help, buka pandangan dan wawasan kita. Jangan buta karena masalah nasionalisme semata. Ini hanya permainan, maka bermainlah. Tak perlu emosi walau memang demi mempertahankan gengsi dan prestasi, tapi tetap harus dalam koridor norma yang wajar dan sportif. Jangan ada lagi pelatih lawan dipukuli seperti di Piala Kemerdekaan, jangan ada lagi wasit dikejar-kejar dan diprotes dengan kasar, dan hal-hal buruk lainnya yang sama sekali justru merugikan nama baik kita itu sendiri.
Sudah saatnya kita tidak berpikir Asia Tenggara, kita harus berpikir Asia bahkan dunia. Bayangkan perbedaan jumlah penduduk dan sumber daya alam kita dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya, benar-benar, saya merasa kita seperti anak bongsor yang bodoh dalam kelas...
God.. please help..

No comments:

Post a Comment